Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Aku minta payung

Teruntuk jiwa yang panas Yang tersungkur ganas Tak menemukan peneduh Dan wadah untuk tiap peluh Teruntuk jiwa yang sepi Ada luka yang tak terobati Menjalar sampai ke nadi Dingin.. aku dinginn Tapi Tak butuh selimut. Karena Disini hujan Aku butuh payung Dimana payung ? Dicuri tetangga baru yang tak punya malu. Tuan , sudikah menjadi payung ku? Payung untuk si puan yang slalu panas. Dan tetiba dingin Seperti musim yang mudah berganti Dan mengukir waktu dengan sakit hati. Tolong lah .. Anggap saja ku mengemis Mengemis lalu menangis.. Keparat dengan cinta teramat sadis Meminta payung seperti meminta mobil manis. Payung oh payung .. Mahal harga mu atau sudah habis ?

Dia Bapakku

                         Ia takkan pernah pergi Meski emosi dan benci menusuk seperti belati Tapi esok hingga saat ini.. Darah nya mengalir di aku punya nadi Aku menyayangi nya tanpa bunyi Aku mengagumi nya dari hati Meski hitam selalu menghantui Trauma dan sakit hati tak aku peduli Meski ia bukan cinta pertama dalam hidupku.. Bukan juga sebagai pahlawan ku. Tapi ia tetap lah aku Dan aku tetap lah dia Tidak ada bagi kami kata mantan Tidak ada bagi kami kata bekas Kami hanya manusia yang banyak harapan Dan mudah menjadi panas Hitam putih berdampingan Dipinggir pelupuk mata ku. Antara marah dan menyesal menghiasi retina mata ku Menangis sakit dan menangis bahagia kurasakan selalu Dia bapak ku .. Bapak ku yang memiliki sisi gelap dan sisi terang dalam hatiku Bapak yang memiliki ruang untuk terus aku ingat Dan bapak yang juga memiliki ruang untuk aku benci Lembar...

Titip rindu

Tlah ku kembalikan lagi kenangan ke tempat asalnya Tempat dimna dia berdiam tak berkata Setelah beberapa hari ia terbang dan tertawa Menari2 dalam kepala Aku sedang mencoba biasa saja Tatkala ia memaksa mencuat keluar dalam raga Aku berharap tak ada lagi jiwa yang ternoda Dengan angan palsu cinta lama Aku masih mencoba Akku yakin bisa Hanya soal waktu saja Aku akan bisa benar-benar meletakkan nya kembali di sana Ayolah jangan berontak Tempat mu bukan disini.. Tempat mu hanya di pusara waktu jaman dahulu Pantasnya kau ku simpan rapih dalam ingatanku Bukan untuk menemani masa depan ku Kala rindu itu menerjang Hanya bisa ku titipkan disudut malam Berharap esok akan kau ambil Di ujung pagi .. Terkadang aku kesal juga marah Hebat sekali senyuman dan canda mu Mampu mencabik-cabik susunan acara masa depan ku Ketika aku bicara dengan waktu untuk masa depan ku Kau sbg waktu masa lalu ku justru mengganggu ku Dengan suara suara khas...